Tentang Karma

Apa yang terlintas pertama kali ketika kita mendengar atau membaca kata karma? Saya tidak yakin bagaimana dengan orang lain, tetapi saya sendiri langsung teringat dengan pepatah “apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu petik”. Dan katanya sih, petiknya bisa jadi tidak dalam waktu dekat, tetapi bisa jadi dalam jangka waktu yang lama. Saya cukup sering mendengar orang-orang berkata kepada ayah atau ibu yang selingkuh agar tidak melakukan tindakan tersebut agar anaknya tidak diselingkuhi atau mendapat karma dari ayah atau ibunya. Lah? kok bisa?

Saya tengah berpikir jahil tentang karma sebenarnya dengan berkaca pada kehidupan di sekitar saya. Kemudian, setelah bepikir dan menyambungkan beberapa teori yang pernah saya baca atau dengar, pikiran jahil itu berubah menjadi pikiran yang lebih serius. Jadi, saya ingin membahas karma ini dengan definisi dan sedikit penjelasan yang bisa lebih dipahami mungkin.
Karma sendiri didefinisikan sebagai penyebab dari seluruh lingkaran sebab akibat yang ada (Wikipedia). Istilah ini seringkali muncul di agama Buddha dan Hindu. Pemahaman awal tentang “apa yang kamu tanam adalah apa yang kamu petik” tidak salah, karena apa yang kamu tanam adalah sebab dari apa yang kamu petik sebagai akibat. Saya kemudian melihat contoh dari lingkungan sekitar saya, ketika seorang ayah selingkuh maka anak perempuannya dipercaya akan diselingkuhi. Biasanya, orang-orang yang ada di dekat saya akan langsung mengatakan bahwa itu karma tanpa bisa menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi. Baiklah, saya akan mencoba melihat mengapa hal tersebut mungkin terjadi. Salah satu teori psikologi yang bisa menjelaskan hal ini mungkin adalah teori milik Carl Gustav Jung di mana teori beliau berkenaan dengan ajaran Hindu. Berdasarkan sumber yang ada, “pemikiran sadar, kata-kata atau tindakan, yang berasal dari unresolved emotion akan berujung pada karma”. Pada contoh yang ada, ketika si ayah selingkuh, si ibu mungkin mengalami emosi-emosi negatif. Apabila emosi negatif tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tidak diperlihatkan pada si anak, serta si anak tidak mengetahui masalah tersebut, kemungkinan anak tersebut mengalami hal yang sama dengan ibunya akan kecil. Namun, jika sebaliknya terjadi, perilaku si ibu akan berdampak pada anaknya yang memungkinkan anak tersebut memiliki ketakutan atau emosi atau pemikiran lainnya yang membuat ia belajar bahwa hal yang sama dapat terjadi pada dirinya. Dengan demikian, ketika si anak dihadapkan pada kondisi yang kurang lebih mirip, cognitively unresolved emotion tersebut akan muncul. Dari sini, karma terjadi karena proses belajar anak itu sendiri. Hal ini juga sesuai dengan teori yang pernah saya dengar di mata kuliah Pengantar Terapi Keluarga; bahwa seorang anak akan mengingat apa yang terjadi pada orang tuanya dari usia 1-10 tahun dan ketika ia dewasa ia akan menampilkan perilaku serupa dengan apa yang ia pelajari selama 10 tahun tersebut. Namun, apakah akan dipersepsikan sebagai karma yang tidak dapat dihindari dan akan terjadi pada generasi berikutnya SANGAT bergantung pada anak itu sendiri.
Pesan moralnya:
Kita bisa memutus lingkaran karma karena kita sebagai manusia memiliki kontrol terhadap lingkungan sebagaimana lingkungan memiliki kontrol terhadap perilaku kita. Masalahnya terdapat pada bagaimana individu mempersepsikan kejadian yang ada sebagai nasib yang akan terus berlanjut atau mempersepsikan bahwa hal itu mungkin terjadi kembali dengan banyak elemen yang berbeda sehingga lingkaran karma tersebut bisa diputus. Hal ini sesuai dengan konsep Triadic Reciprocal Causation milik Albert Bandura. Singkatnya, kita memiliki opsi. Hanya saja, seberapa yakin kita akan diri kita bahwa diri kita cukup kuat (self concept) dan seberapa yakin kita bisa memutus lingkaran karma tersebut (self efficacy).
Well… cuma pikiran jahil yang menjadi sedikit lebih serius. Mungkin setelah ini, saya akan memutus lingkaran karma saya sendiri. Simple, saya tidak ingin secepat itu menyerah pada nasib karena saya sadar bahwa saya punya kontrol atas apa yang terjadi pada diri saya dan saya tahu bahwa saya kuat. Wish me the best of luck! ;D
-eljez
Advertisements

2 thoughts on “Tentang Karma

  1. so, daripada mikirin buah yang dipetik dari orangtua, lebih baik sekarang langsung tanam benih milik sendiri. Jadi pas panen, yang dipanen adalah buah sendiri.. (^^,)…
    Btw pengertian loe tentang karma cukup baik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s