Psikologi & Stand Up Comedy

Dulu di awal saya dan teman-teman mendirikan @StandUpAtma, saya sempat insist sekali membuat stand up khusus psikologi. Saya insist dengan alasan bahwa saya ingin memberi banyak kesempatan kepada anak psikologi untuk mengasah keterampilan berpikir kritis, yang seharusnya dan wajib dimiliki anak psikologi. It’s a need. Dan berhubung para calon pendiri waktu itu adalah anak psikologi… saya berpikir mengapa tidak memberikan kesempatan eksklusif kepada anak psikologi. Tapi, kemudian teman-teman setuju dengan membuka kesempatan kepada satu kampus, tidak hanya psikologi. Saya bukan tidak setuju. Jadi, saya tidak berkeberatan sama sekali membuka kesempatan kepada Atma Jaya, satu kampus. Baru saat ini saya berpikir bahwa ada kaitan yang erat antara psikologi dan stand up comedy.

Beberapa waktu lalu, saya baru saja membeli buku “Step By Step To Stand Up Comedy” dan masih belum selesai membaca saat ini hehehe. Tetapi, di awal membaca saya sudah menemukan sebuah satu kata yang cukup familiar di telinga anak-anak psikologi (well, setidaknya bagi saya dan angkatan saya): asumsi.
Membuat sebuah joke yang bisa menghasilkan tawa membutuhkan efek “surprise”. Efek terkejut bisa ditimbulkan karena kalimat awal di dalam joke tersebut memunculkan asumsi yang secara umum berlaku di masyarakat dan kemudian asumsi tersebut dipatahkan dengan kalimat penutup. Intinya, ada asumsi yang dipatahkan sehingga membuat terkejut yang mendengar joke tersebut.
Mari mengambil contoh dari bit milik Ernest Prakasa: “Orang Cina itu tidak pernah memandang sebelah mata. (diam sejenak). Mandang dua mata aja susah”.
Ketika mendengar kalimat pertama (“Orang Cina itu tidak pernah memandang sebelah mata”) atau set up, kita berasumsi “memandang sebelah mata” sebagai kalimat dengan makna konotasi yang artinya meremehkan atau merendahkan orang lain. Tetapi ternyata asumsi itu dipatahkan dengan kalimat berikutnya atau punchline yang membuat memandang sebelah mata sebagai sebuah makna yang denotatif.

Lalu bagaimana kaitannya dengan psikologi?

Psikologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Tingkah laku, behavior merupakan output dari input atau stimulus atau rangsangan dari lingkungan. Stimulus yang kita terima diproses sedemikian rupa melalui otak dan otak yang akan memerintahkan tubuh kita untuk mengeluarkan sebuah tindakan atau perkataan (output). Proses tersebut termasuk salah satunya adalah berpikir dan asumsi merupakan salah satu hasil dari proses berpikir yang belum tentu terbukti kebenarannya.
Asumsi menjadi salah satu hal yang justru mungkin penting dalam mengalanisis mengapa seseorang bertingkah laku demikian. Bukankah hal ini yang dipelajari di psikologi?
Anak-anak psikologi seharusnya menjadi lebih peka terhadap berbagai stereotype, budaya, dan lainnya yang bisa membuat seseorang berasumsi demikian sehingga bertingkah laku demikian.

Dengan begitu, saya bisa berasumsi bahwa anak psikologi bisa mengasah kekritisannya dalam melihat lingkungan yang mempengaruhi asumsi banyak orang terhadap hal-hal tertentu… dan memanfaatkan asumsi tersebut untuk menghasilkan tawa.

Bahkan hasil dari stand up comedy (tawa) pun menjadi alat yang baik untuk menyehatkan kita secara psikologis.

=)

 

Advertisements

One thought on “Psikologi & Stand Up Comedy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s