Catatan pribadi #PerempuanBerHAK – 8 Maret 2014

10 Juli 2012.

Tanggal yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh banyak pecinta stand up comedy.
Tidak mungkin dilupakan oleh Ernest Prakasa.
Dan tidak akan pernah dilupakan oleh saya dan (saya yakin) juga Sakdiyah Ma’ruf.

Ever since that night, Kak Diyah and I were so excited about our performance.
We killed the opening performance. And we did think we have to do it again.

Di akhir tahun 2012, Kak Diyah dan saya sangat excited dan saling mengirim email.
We were going to have a duet show! 😀
We picked the date : 08.03.2014. International Women’s Day.

But then, things get in the way.
Singkatnya, kami sibuk dengan pekerjaan. Banyak job kami tolak. Ada job yang Kak Diyah oper ke saya, dan saya lagi gak bisa. Dan banyak proses lainnya yang kami lewati, hingga akhirnya show bukan lagi berbentuk duet tapi bersama dengan komika wanita lainnya.

Sampai akhirnya sampai di penghujung 2013.
Saya sudah setengah melepas keinginan untuk mewujudkan all female stand up show.
Alison ‘menagih’ semangat saya dan teman-teman.
Dalam waktu kurang dari 2 bulan, segala persiapan dimantapkan untuk show di tanggal 8 Maret 2014.

Sejak 11 Februari 2014, tagar #PerempuanBerHAK muncul di twitter.
Dalam waktu 1 minggu, tagar ini nampaknya cukup menarik perhatian di kalangan komika. Tapi belum cukup menggaung di kalangan umum

Bodo amat.

The show must go on.
It is time for us, women, to speak up. To celebrate. 🙂

And it happened last night. It was a success!
A beautiful looking with golden voice, Gamila.
A ‘tante’ with attitude. A sassy lady. Fathia.
An inferior woman. A chinese Rapunzel. Me, Jessica.
A woman with her “girls’ logic”. A strong one. Alison.
A woman who wears jilbab that can’t ever, ever, ever covers her brave soul. Sakdiyah.

Five woman killed the night with laughters!!!

That is what happened last night. And I can never tell you in words, how happy, how proud, how moved I am.

But let me try. 🙂

Saya mulai stand up tanggal 21 Desember 2011. Open mic pertama di bilangan Jakarta Pusat.
Saya tidak punya modal apapun kecuali saya nekat dan saya tidak pernah risi menyebutkan hal-hal yang dinilai tabu oleh kebanyakan orang.
Hanya itu modal saya.
Exactly.
Hanya itu.
Saya berani, bukan lucu.
“Kelucuan”-nya datang dari nyali saya membicarakan hal-hal tabu.
Mungkin muka saya terlihat cukup “anak baik-baik”. Sehingga kontras sekali dengan apa yang saya bicarakan di panggung.
Tapi hanya itu.
Dan itu bukan hal yang bisa diterima di stasiun televisi. Makanya saya dieliminasi. :))
Dan ternyata bukan juga hal yang bisa diterima kebanyakan orang.
Saat itu, image saya sebagai pendidik membuat saya berpikir bahwa stand up dan pekerjaan tetap saya sebagai seorang trainer tidak bisa dicampur. Saya harus memilih.
Kegiatan stand up pun berkurang.
Kalaupun saya stand up, saya lebih memilih off-air. Stand up off air membuat saya lebih bebas membicarakan hal-hal tabu. Karena saya tidak harus memikirkan bagaimana kalau ada anak didik saya yang menonton dan tidak menilai isi materi dengan cukup wise.
Stand up on air saya lemah. Kalau harus on air saya memilih materi aman yang tidak terlalu lucu. Atau sebenarnya cukup lucu, tetapi karena saya (saat itu) tidak merasa bahwa itu saya makanya saya tidak pede dengan materi saya. Jadinya delivery-nya menjadi tidak maksimal. Ketika delivery tidak maksimal, akhirnya ya jadinya nanggung. Jadi gak lucu.

Setelah beberapa saat, rekan saya, William (@WilliamSBudiman) menyarankan saya untuk rebranding image saya.
Jangan lagi memisahkan image saya sebagai trainer dengan saya sebagai komika.
Buat itu menyatu.
Mulai dengan membuat materi yang sesuai dengan tema-tema materi saya ketika saya training, yaitu kesehatan psikologis.
Jangan lagi menjadi komika yang bold, tapi juga sharp karena materinya berisi.

Dan rasanya kemarin malam saya berhasil membawakan materi pertama yang berisi pesan.
Ada tema psikologi-nya (inferioritas, ideal vs real self, stigma). Tapi tetap dengan saya yang bold dalam delivery materi.
Malam kemarin, saya bukan lagi komika yang mengandalkan nyali saja.
I was being bold and sharp.

And I am happy with it! 😀

Sangat membahagiakan dan mengharukan melihat idola-idola saya tertawa, melompat, bertepuk tangan atas apa yang saya sampaikan di atas panggung.
Segala komentar bahwa saya gagal sebagai komika, bahwa saya tidak cocok menjadi komika, saya tidak lucu…. semua itu terasa menguap begitu saja.
Ini adalah penghargaan terbaik untuk saya sebagai komika.
Terima kasih sudah men-tertawa-kan hidup bersama saya. :’)

Tapi, selain semua hal di atas, hal yang sangat mengharukan untuk saya adalah… the fact that I am a free woman ever since that night. 🙂
I screamed my heart out. I screamed out my inferiority, my tower that made me a Rapunzel. A Chinese Rapunzel.
Mungkin banyak yang tidak sadar bahwa ketika saya naik panggung semalam, ada lagu “Let It Go” (OST. Frozen) diputar.
Malam sebelum saya tampil, saya mendengarkan ulang lagu ini. I sang along and I could smell the freedom.

“Let it go. Let it go. I’m one with the wind and sky”

“Let it go. Let it go. The perfect girl is gone.”

Stand Up Comedy is a therapy.
I once said that. And yes, it is indeed a therapy.

I am free. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Catatan pribadi #PerempuanBerHAK – 8 Maret 2014

  1. Pingback: Positive Genius & Stand Up Comedy | eljez

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s