Positive Genius & Stand Up Comedy

Biarkan saya memulai tulisan ini dengan mengeluh tentang motivator.

Pernah tidak datang ke seminar motivasi? Pernah liat motivatior yang cara naik ke panggungnya lari-lari dari samping panggung sambil teriak-teriak “SEMANGAT PAGI????!!!! APA KABARNYA PAGI INI SODARA-SODARA SEKALIAN????!!!! LUAR BIASA!!!! SEKALI LAGI!!! APA KABARNYA PAGI INI SODARA-SODARAAAAA????!!!! LUUUUAAAAARRR BIIIIIAAAASAAAAAA” ?

Satu, kenapa harus lari?
Dua, kenapa harus teriak-teriak sih???

Tapi yang paling bikin saya gerah bukan pembukaannya. Saya gerah dengan kalimat-kalimat mutiara positif yang mereka ucapkan. Gerah dengan kalimat mutiara yang senada dengan “badai pasti berlalu”.

Satu, ya badai pasti berlalu. Tapi belum tentu juga lu selamat dari badai.
Dua, basi.
Tiga, klise.

Klise. Sama klisenya dengan nasihat yang sering kita dengar dari ucapan A waktu tahu B diputusin pacarnya: “semuanya pasti baik-baik saja”. Padahal B lagi hamil 3 bulan.

Optimis yang delusional.

Dan berhubung salah satu pekerjaan saya membuat saya terkadang menjadi motivator untuk anak-anak SMP dan SMA, saya akan menggunakan salah satu bahan mereka kalau mau membahas tentang optimis. Mari lihat gambar di bawah ini.

glass

 

When you see the glass above, what do you see? Is it half empty or half full?

Setengah kosong? Atau setengah terisi?

Bagi orang yang melihat gelas ini setengah terisi, orang-orang yang melihat gelas ini setengah kosong adalah orang yang pesimis.

Bagi orang yang melihat gelas ini setengah kosong, orang-orang yang mengatakan gelas ini setengah terisi adalah orang-orang yang tidak realistis. Optimis, tapi delusional. Karena faktanya, gelas ini hanya terisi 1/3 bagian. Ruang yang tidak terisi lebih banyak.

Tapi hampir sebagian orang tidak sadar bahwa mereka hanya terfokus pada gelas ini saja.

Meributkan terisi atau tidaknya gelas tersebut.

Hampir semua orang hanya fokus pada gelas tersebut, sehingga di matanya hanya ada gelas itu.

Mereka tidak terbiasa untuk melebarkan pandangan.

Sehingga mereka tidak melihat pitcher berisi air yang ada di sebelahnya dan siap untuk mengisi gelas yang entah setengah terisi atau setengah kosong.

glass jar

Orang-orang yang mampu melihat pitcher inilah yang disebut sebagai positive genius, oleh Shawn Achor di bukunya yang berjudul “Before Happiness”.

Positive genius mampu untuk melihat realita, fakta yang sama tapi dengan versi yang berbeda dan lebih bersifat positif.

Bagi positive genius, gelas tadi ada airnya, betul realitanya sebagian besar ruang di gelas tersebut memang kosong, dan ada pitcher yang berisi air dan bisa digunakan untuk mengisi gelas tersebut.

Semuanya fakta. Bukan fakta yang dibuat-buat. Jadi jelas bukan delutional optimism.

Happiness-is-About

Positive genius mampu untuk menciptakan realita baru atas sebuah kejadian sehingga ia mampu untuk memandang hidup lebih positif, ketika orang lain melihat kejadian yang sama dengan realita yang cenderung negatif.

Dengan demikian, kemampuan ini membuat positive genius terlatih untuk memiliki pandangan yang positif tanpa mengesampingkan atau menutup mata atas sisi buruk yang ada. Konsekuensi logisnya adalah hidupnya berubah dan happiness level meningkat.

 

007955136767ee4e43ced137ab413924

 

Kemampuan atau skill menciptakan realita alternatif atas sebuah peristiwa (yang biasanya tidak menyenangkan atau membuat gelisah) idealnya dimiliki oleh seorang stand up comedian.

Tidak mengherankan kalau di luar negeri, stand up comedy sudah menjadi terapi untuk gangguan psikologis (related link: http://standupformentalhealth.com/).

Beberapa gangguan psikologis disebabkan oleh distorsi kognitif atau cara berpikir yang berlebihan dan tidak rasional. Melatih orang dengan distorsi kognitif untuk melihat realita alternatif akan membuatnya terlatih untuk melihat hal negatif tersebut dengan versi yang berbeda. Dan hal ini bisa dilakukan dengan stand up comedy.

Mengacu pada tulisan saya yang berjudul “Stand Up Comedy: Sebuah Pisau Bermata Dua”, ini adalah motivasi saya. Setidaknya, hal ini yang saya lakukan terakhir kali saya stand up di #PerempuanBerHAK. Saya menterapi diri saya sendiri.

Bagi saya, menjadi komika adalah sebuah pengalaman yang menarik.

Tapi lebih menyenangkan kalau akhirnya kita bisa berdamai dengan diri kita dan menjadi #sehatpsikologis dengan stand up comedy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s