2012, lalu 2013 =)

Tahun 2012 buat gue adalah tahun yang penuh dengan kesempatan dan keberuntungan. Tahun ini begitu banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik dari Jessot di tahun-tahun sebelumnya. Mengingat bahwa 2011 itu kiamat versi Jessot (hehehe), 2012 lompatannya terasa tingginya lumayan juga. And I am one lucky dreamer… Jadi apa yang gue inginkan terjadi di tahun 2012, terjadi dan bahkan ada yang berlimpah.
Setelah gue lihat resolusi yang gue buat untuk 2012, ternyata semuanya tercapai. Baru pertama kali bisa tercapai semua! =D Continue reading “2012, lalu 2013 =)”

Advertisements

Stop saying "Gue galau"

Orang yang berhasil adalah orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara emosi. Kecerdasan emosi sering kita kenal dengan sebutan Emotional Intelligence. Orang yang cerdas secara emosi mampu untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan dan memanfaatkannya untuk membina hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Sudah dibuktikan bahwa membina hubungan yang baik atau membangun sebuah social network berperan penting dalam membangun karier. Itulah mengapa orang yang cerdas secara emosi lebih mungkin memiliki karier yang lebih baik dibandingkan orang yang hanya cerdas secara intelektual.

Mengenali emosi yang dirasakan adalah sebuah kebutuhan yang cukup mendasar. Mengapa? Dengan mengenali emosi, kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan di sikon yang ada. Apabila kita tidak dapat mengenali emosi kita dengan baik atau salah me-label emosi, tentu tindakan yang kita ambil juga tidak tepat. Misalnya, kalau kita tahu kalau kita sedang sedih, kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan agar kita tidak lagi sedih. Kalau kita marah tapi salah melabel perasaan marah tersebut dengan sedih, maka percuma kita menangis… karena mungkin yang kita butuhkan bukan menangis, tapi teriak-teriak misalnya.

Continue reading “Stop saying "Gue galau"”

Psikologi & Stand Up Comedy

Dulu di awal saya dan teman-teman mendirikan @StandUpAtma, saya sempat insist sekali membuat stand up khusus psikologi. Saya insist dengan alasan bahwa saya ingin memberi banyak kesempatan kepada anak psikologi untuk mengasah keterampilan berpikir kritis, yang seharusnya dan wajib dimiliki anak psikologi. It’s a need. Dan berhubung para calon pendiri waktu itu adalah anak psikologi… saya berpikir mengapa tidak memberikan kesempatan eksklusif kepada anak psikologi. Tapi, kemudian teman-teman setuju dengan membuka kesempatan kepada satu kampus, tidak hanya psikologi. Saya bukan tidak setuju. Jadi, saya tidak berkeberatan sama sekali membuka kesempatan kepada Atma Jaya, satu kampus. Baru saat ini saya berpikir bahwa ada kaitan yang erat antara psikologi dan stand up comedy. Continue reading “Psikologi & Stand Up Comedy”

Pemeluk Agama Fanatik

Buat gue agama dan fansclub itu punya persamaan.

Sama-sama punya anggota.
Sama-sama punya sosok yang dipuja oleh anggotanya.
Sama-sama punya jadwal rutin gathering/kumpul untuk membicarakan atau memuja sosok yang dipuja oleh mereka para anggota.
Dan sama-sama punya anggota fanatik yang nyebelin.

Tapi…. ada bedanya.
Senyebel-nyebelinnya anggota fanatik fansclub, dia gak akan maksa lu untuk suka sama sosok yang mereka puja. Paling-paling dia cuma ngoceh nonstop soal pujaan hatinya.
Dia gak akan senyebelin pemeluk agama yang fanatik. Yang berusaha menyeret lu untuk mengubah keyakinan lu dengan menghina/menjelekkan/menyebutkan hal negatif/kekurangan dari agama lu.

Gue gak suka dengan pemeluk agama apapun yang fanatik.
Fanatik berbeda dengan lu memang rajin melakukan pelayanan.
Fanatik adalah ketika lu sudah mulai sering memperkosa kata mukjizat.

Continue reading “Pemeluk Agama Fanatik”

Lately, I’ve been busy with…

Just updating what I’ve been busy with these days. =)

Sebetulnya Agustus gue berniat ngetes materi stand up comedy baru, tapi belum bener-bener selesai ditulis dan punchline juga masih kurang asik. Ditambah lagi gue sakit-sakitan bulan lalu. Jadi sampai sekarang masih sedang dirampungkan.
Nah… September gue bakalan sibuk parah untuk training. Dan belakangan ada banyak teman-teman baru yang menanyakan gue kerja apa, lagi sibuk apa, kerjaan tetap gue apa. Nah, ini sekalian ya gue update. =)
Kerjaan tetap gue adalah training. Yup, stand up comedy bukan pekerjaan utama gue…. stand up comedy itu buat gue punya sebutan lain (hobi, seni, katarsis, dll), tapi memang bukan pekerjaan utama.

Continue reading “Lately, I’ve been busy with…”

5 Languages of Apology

Kemarin, di Aethra’s Books Day, rekan saya (Anita Rijadi) membahas sebuah buku yang berjudul 5 Languages Of Apology. Begitu mendengar judulnya, saya langsung tertarik. Sebelumnya, saya pernah membaca tentang 5 Languages Of Love dan mendapati bahwa buku ini menarik. Jadi, saya dengan cepat menyimpulkan bahwa buku yang akan dibahas rekan saya tersebut juga pasti tidak kalah menariknya dari apa yang pernah saya baca.

Di buku, 5 Languages Of Love, saya menemukan bahwa kita memiliki bahasa kasih yang dominan dalam diri kita. Bahasa ini yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan pasangan kita dan apa yang kita harapkan dari pasangan kita. Misalnya, saya adalah seorang wanita dengan bahasa kasih “quality time”. Maka saya akan lebih senang ketika pasangan saya menghabiskan banyak waktu bersama dan melakukan sesutu hal bersama, daripada pasangan saya memberikan hadiah atau memuji saya atau memeluk saya. Ketika pasangan saya tidak mengerti bahwa bahasa kasih saya adalah demikian dan jauh lebih sering memberi hadiah ketimbang meluangkan waktu bersama saya, maka mungkin saya akan merasa kurang diperhatikan atau kurang mendapatkan afeksi.

Demikian juga dengan 5 language of apology. Terdapat 5 bahasa permintaan maaf, yaitu pernyataan menyesal, tanggung jawab, tebusan, bertobat, dan permohonan ampun. Continue reading “5 Languages of Apology”

Let’s Make More Laughters! =D

Baiklah… mari menepati janji gue untuk bercerita di posting-an blog beberapa waktu lalu! =)

Mari kita mulai dari beberapa waktu lalu ketika gue dieliminasi dari Stand Up Comedy Indonesia Season 2.
 
It was a great experience to be on stage. Sungguh. Gue sangat menyukai berada di panggung Stand Up Comedy Kompas TV. Mengenal 12 orang sakit jiwa lainnya yang sangat menginspirasi. It was a great pleasure. Ketika gue diumumkan bahwa gue dieliminasi di minggu pertama show, it was not that hard. Yang terasa menyedihkan hanyalah gue kehilangan waktu bersama 12 orang teman baru gue itu. But then it got harder the next days. Terutama ketika show itu ditayangkan perdana. Beberapa kalimat membuat gue merasa kecewa terhadap diri sendiri. Kalau hanya kalimat “eljez tidak lucu”, gue masih bisa handle. Tapi ada kalimat yang sampai saat ini pun masih terngiang di otak gue: “Kesalahan Indra Yr memilih eljez”. That sentence got me thinking that maybe I was a failure, that maybe I wasn’t supposed to be on that stage. Selama satu minggu penuh gue tidak ingin mengingat bagaimana gue di panggung itu, gue tidak ingin open mic. Tapi, gue terselamatkan oleh 3 hal: telepon, twitter, dan pikiran gue sendiri. Gue telepon dengan William SB (bos gue) dan Pandji di minggu itu… mereka membuat gue berpikir untuk tidak menyerah. Twitter membantu gue ketika gue sudah berpikir untuk tidak menyerah; tawaran untuk open mic di UNJ datang.
Open mic di UNJ buat gue saat itu menakutkan. You can ask people who saw me that day that I was trembling.. gue gemetar dan satu-satunya alasan yang bisa gue pikirkan adalah gue gugup. Open mic hari itu tidak buruk, pecah, tapi tidak bisa juga dibilang sangat baik.
 
Sejak open mic UNJ, I admit that I was escaping. Gue tidak ingin terlalu dekat dengan stand up comedy dulu beberapa saat dan gue juga punya alasan bagus untuk mengalihkan fokus. Gue fokus ke Smile For The Future, ke beberapa training yang terus menghujani Aethra Learning Centre. Gue tenggelam dalam kesibukan training. Gue bukan tidak rindu stand up comedy. I missed doing open mics… dearly. Tapi gue terlanjur tenggelam dalam jadwal training dan training adalah hal yang juga menyenangkan buat gue.
Sampai akhirnya suatu malam Ernest mengirimkan DM Twitter ke gue bertanya apakah gue free tanggal 10 Juli 2012. Eits… engga kok, dia cuma bilang bahwa dia udah netepin tanggal untuk Merem Melek Finale dan memang nyokap gue pengen banget dateng ke show-nya Ernest. Beberapa hari kemudian, Ernest message gue via Whatsapp dan menanyakan apakah gue bisa jadi openner dia di Jakarta bareng Kak Diyah (Sakdiyah Ma’ruf). Tanpa pikir panjang, gue mengiyakan. Dan beberapa menit kemudian, gelisah melanda hahahaha. Gue udah lama gak open mic cuuuyyyy!!! Ini sih nekad to the max! Tapi gue inget kata Pandji waktu di telepon itu bahwa gue harus kembali open mic, latihan lagi, buktikan bahwa mereka salah tentang gue. So there are 3 main reasons why I should be doing this:

Continue reading “Let’s Make More Laughters! =D”