Social Intelligence – Tipe Kepribadian Ekstrovert lebih cerdas daripada Introvert?

Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di kepribadianmu.com pada 2017.

Setelah beberapa tulisan saya mengenai social intelligence atau kecerdasan sosial dipublikasikan, saya mendapatkan tanggapan yang positif dari para pembaca. Selain tanggapan positif, saya juga turut mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar kecerdasan sosial. Terdapat sebuah pertanyaan yang menarik bagi saya, yaitu Apakah ada hubungannya antara tingkat tinggi-rendahnya kecerdasan sosial seseorang dengan introvert-extrovert?”

Continue reading “Social Intelligence – Tipe Kepribadian Ekstrovert lebih cerdas daripada Introvert?”

Social Intelligence – Ilmu Psikologi Tentang Sebuah Hubungan Yang Tulus

Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di kepribadianmu.com pada 2017.

Suatu hari, seorang teman datang kepada saya untuk curhat. Ia bercerita bahwa ia sedang merasa kesal dan kecewa terhadap sahabatnya, yang kita sebut saja dengan Tika. Dari deskripsi teman saya, Tika adalah seseorang yang sangat ramah, aktif, banyak senyum, pembuka obrolan di kala situasi membuat ia ‘mati gaya’. Karakteristik Tika inilah yang membuat teman saya cepat menjadi dekat dengannya. Tetapi, teman saya kemudian merasa Tika tidak tulus. Sampai akhirnya teman saya ini merasa seringkali dimanfaatkan dan ia menjadi kecewa terhadap Tika.

Cerita teman saya ini rasanya bukan cerita yang asing bagi kita. Mungkin kita pernah bertemu dengan orang-orang yang sepertinya sangat menarik dan selalu punya bahan pembicaraan ketika bertemu. Orang-orang yang kita pikir tidak bermasalah dalam menjalin hubungan. Namun ternyata orang-orang ini yang justru tidak memiliki hubungan berkualitas dengan orang lain yang sifatnya long-lasting.

Apabila dikaitkan dengan social intelligence, apakah orang-orang ini sebenarnya memiliki kecerdasan sosial yang tinggi?

Continue reading “Social Intelligence – Ilmu Psikologi Tentang Sebuah Hubungan Yang Tulus”

Social Intelligence – Kesalahan Dalam Berempati

Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di kepribadianmu.com pada 2017.

“Apa itu Empati?”

Kalau saya melontarkan pertanyaan ini setidaknya 7 tahun lalu ketika menjadi pembicara di training sekolah, jawaban-jawaban yang diberikan belum terlalu tepat karena peserta kebingungan membedakan empati dan simpati (merasakan emosi tertentu karena keadaan atau situasi yang dialami orang lain). Beberapa tahun ini, peserta-peserta pelatihan yang saya latih tidak terlalu kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka langsung menjawab dengan satu kalimat yang sudah sangat sering kita dengar: “putting yourself in someone else’s shoes” atau merasakan apa yang orang lain rasakan. Jawaban itu benar dan sehari-haripun mereka sebenarnya, kurang lebih, sudah melakukannya. Dan saya yakin begitu juga dengan Anda.

Nah sekarang, coba kita ingat kembali dan merefleksikan praktik empati kita. Pernahkah Anda mendengar kalimat “Ih, gue enggak minta (dibantu) juga kok”, entah itu ditujukan kepada niat baik Anda ataupun orang lain? Kalau iya, pernahkan bertanya-tanya kenapa maksud baik yang sudah dilakukan dengan memikirkan kondisi dia malah tidak dirasa membantu? Jangan-jangan sebenarnya kita melakukan kesalahan dalam berempati?

Continue reading “Social Intelligence – Kesalahan Dalam Berempati”

Social Intelligence – Potensi Luar Biasa Yang Tidak Disadari

Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di kepribadianmu.com pada 2017.

Setiap orang memiliki dua tujuan hidup yang seringkali diucapkan sebagai doa ketika berulang tahun; sukses dan bahagia. Semua daya dan upaya selalu diarahkan untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Demi mencapai kedua hal ini, kita rela melakukan berbagai macam cara. Banyak orang yang rela melanjutkan studi demi mendapatkan kompetensi yang dapat digunakan untuk memperoleh kesuksesan yang lebih besar. Bahkan beberapa orang rela belajar ilmu hitam dan melakukan tindak kejahatan demi sukses dan bahagia. Padahal, tanpa kita sadari kita sudah memiliki modal yang sangat baik untuk mencapai kedua hal tersebut.

Menurut beberapa penelitian di bidang psikologi dan neurologi, manusia sudah terlahir dengan potensi untuk mencapai kedua hal tersebut, yaitu kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain atau social intelligence. Bagaimanapun, manusia disebut sebagai makhluk sosial, sehingga tidaklah aneh kalau sebenarnya manusia dibekali dengan kemampuan untuk bersosialisasi.

Continue reading “Social Intelligence – Potensi Luar Biasa Yang Tidak Disadari”

TEDxUAJ: Good Sense Of Humor (Jessica Farolan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Click this to watch (klik untuk menonton)

Terima Kasih, PSI

Waktu itu tahun 2014. Saya tertohok oleh kalimat yang keluar dari Pandji Pragiwaksono di stand up special dia yang ketiga “Mesakke Bangsaku”. Kalimatnya kira-kira seperti ini “Lu gila (tidak ingat siapa yang lu pilih waktu Pemilu)! Itu kan salah! Mereka yang lu anggap korup, ngaco itu duduk di DPR karena dipilih!”. Bukan kalimat yang baru buat saya. Tapi malam itu menohok hati saya karena saya percaya bahwa stand up comedy adalah sarana menyampaikan kritik dalam bentuk yang mudah diterima. Tawa meruntuhkan defense mechanism. Saat kalimat itu disampaikan, saya sudah 1 jam dibuat terbahak-bahak. Dan saat itu, saya tidak punya alasan untuk berkilah.

Malam itu saya berjanji, saya akan menjadikan Pemilu 2019 bermakna.
Janji itu terlupakan dalam waktu 2 minggu saja. Sama seperti janji untuk berolahraga seminggu sekali.

Janji itu baru teringat kembali tahun 2018 awal, ketika Pemilu sudah semakin dekat dan saya sudah menjadi anggota sebuah partai baru yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Rasanya menjadi sangat salah ketika saya tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan janji ke diri saya sendiri. Maksud saya, saya sudah berada dalam sebuah partai walaupun saat itu kontribusi saya ke partai hanya sebatas jadi MC. Jadi saya berpikir, mari kita gunakan kesempatan ini agar saya bisa bilang ke Pandji atau siapapun bahwa saya akan mengingat siapa yang saya pilih. Continue reading “Terima Kasih, PSI”

Review: “Milly & Mamet (Ini bukan Cinta & Rangga)” | NO SPOILER

Waktu Cinta ngomong “BASI! Madingnya udah mau terbit!” dan berusaha nutupin buku pakai sepatu (dan entah mengapa bisa enggak keliatan), saya lagi duduk di kelas 2 SMP. Waktu itu saya lebih fokus ke tema persahabatan dibanding cinta-cintaan. Maklum, sekolah di sekolah perempuan semua kala itu sepertinya membuat saya telat naksir cowo. Nicsap baru terlihat menggiurkan waktu saya duduk di SMA (Yes, he is so handsome in GIE imho). Dan baru setelahnya saya kembali nonton Ada Apa Dengan Cinta lagi dan merasakan apa yang seharusnya dirasakan ketika nonton AADC (Yes, BASI!).

Tujuh belas tahun kemudian, muncul AADC 2. This movie is legendary and iconic. Tahu kenapa? Karena ketika muncul AADC 2, muncul pula sequel film jadul lainnya. Tapi, tidak ada yang sesukses AADC 2. Sebut saja Eiffel I’m in Love 2 yang sangat amat gagal membuat tokohnya bertumbuh. Tapi Cinta dan Rangga dengan suksesnya membuat semua orang lebih milih Yogya ketimbang Paris. Sukses juga membuat Miles membuat film “Milly & Mamet”. Continue reading “Review: “Milly & Mamet (Ini bukan Cinta & Rangga)” | NO SPOILER”