Forgive. And you are free.

I was once thinking that death would set us free. It was the easiest way to get rid all of your pain.

Itu dulu mikirnya begitu; makanya kalimat di atas pakai past tense. Sekarang beda.

Now, I understand perfectly that forgiving will set you free. It will bring you peace.

Death might be the easiest way. It will set you free (may be yes, may be no. I don’t know. I decided to stay alive years ago).
But forgiving will not only set you free. It will give you peace, lessen your enemies, bring back your life to happy state.

“But, how can you be so sure? How do you know?” 

Nothing better than the experiences of a prisoner who is now freed.

 

Sincerely,
Jessica Farolan (ex-prisoner).

Advertisements

Tentang Agama

Kemarin, saya terpukau dengan bagaimana Dalai Lama menjawab pertanyaan “agama apa yang paling baik di dunia?”, yang saya baca di sebuah artikel. Beliau menjawab dengan sangat baik: “Agama terbaik adalah yang lebih mendekatkan Anda pada Cinta (TUHAN), yaitu agama yang membuat Anda menjadi orang yang lebih baik”. Lalu, saya jadi ingat sebuah pepatah yang pernah saya dengar. Let me share it with you. =)

Waktu saya SMA, saya pernah sebegitu kesalnya dengan pertanyaan : “Kamu beragama apa?”.
Soalnya waktu itu saya tidak beragama. Tapi saya percaya Tuhan. Saya berdoa dengan cara Katolik (karena saya sekolah di sekolah Katolik sejak kecil). Tapi, waktu pelajaran Religiositas di kelas 1 SMA, saya dianggap beragama Buddha. Padahal saya tidak tahu apa-apa tentang Buddha saat itu. Jadi, waktu ditanya soal agama Buddha di pelajaran itu, saya merasa malu dan setiap jam pelajaran Religiositas, saya merasa tidak nyaman. Jadinya, ya ngapal aja. Toh ulangan juga bagus-bagus aja. Tapi, saya kesal jadinya dengan pertanyaan “kamu agamanya apa?”.

Jadi, agama saya apa?

Continue reading “Tentang Agama”

Positive Genius & Stand Up Comedy

Biarkan saya memulai tulisan ini dengan mengeluh tentang motivator.

Pernah tidak datang ke seminar motivasi? Pernah liat motivatior yang cara naik ke panggungnya lari-lari dari samping panggung sambil teriak-teriak “SEMANGAT PAGI????!!!! APA KABARNYA PAGI INI SODARA-SODARA SEKALIAN????!!!! LUAR BIASA!!!! SEKALI LAGI!!! APA KABARNYA PAGI INI SODARA-SODARAAAAA????!!!! LUUUUAAAAARRR BIIIIIAAAASAAAAAA” ?

Satu, kenapa harus lari?
Dua, kenapa harus teriak-teriak sih???

Tapi yang paling bikin saya gerah bukan pembukaannya. Saya gerah dengan kalimat-kalimat mutiara positif yang mereka ucapkan. Gerah dengan kalimat mutiara yang senada dengan “badai pasti berlalu”.

Satu, ya badai pasti berlalu. Tapi belum tentu juga lu selamat dari badai.
Dua, basi.
Tiga, klise.

Klise. Sama klisenya dengan nasihat yang sering kita dengar dari ucapan A waktu tahu B diputusin pacarnya: “semuanya pasti baik-baik saja”. Padahal B lagi hamil 3 bulan.

Optimis yang delusional.

Dan berhubung salah satu pekerjaan saya membuat saya terkadang menjadi motivator untuk anak-anak SMP dan SMA, saya akan menggunakan salah satu bahan mereka kalau mau membahas tentang optimis. Mari lihat gambar di bawah ini. Continue reading “Positive Genius & Stand Up Comedy”

Balanced Online & Offline Life

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman di Aethra Learning Center sempat menerima sebuah tawaran kerja sama dengan SMP Santa Maria Juanda untuk memberikan pelatihan kepada siswa/i mereka tentang penggunaan internet dan social media. Selama membuat materi pelatihan, saya jadi bernostalgia hal-hal jadul banget.

Dulu itu, saya cuma bisa main internet setiap hari Sabtu. Biasanya sih jam 4 sore sampai jam 7 malam. Kalau orang tua lagi pergi, bisa lah sampai jam 8 malam. Kenapa gitu? Soalnya, dulu itu kalau kita mau pakai internet, telepon kita mati. Jadi kudu milih-milih waktu yang pas, jam-jam di mana orang rumah jarang dapet telepon. Beda banget kan sama sekarang? Kalau dulu mau akses internet, saya harus nyamperin komputer. Kalau sekarang, saya bisa akses internet dimanapun dan kapanpun, via handphone.

Selama saya buat materi pelatihan tadi, saya juga jadi paham kalau sebenernya kita ini bukan hanya punya kewarganegaraan seseuai tanah kelahiran. Kita juga menjadi seorang warga negara digital. Banyak sekali pelatihan di luar negri tentang hal ini supaya masyarakat sadar bahwa kita hidup di sebuah era digital dan kita semua warga negara digital. Jadi, ada kehidupan kita sebagai warga negara digital (kehidupan online) dan kehidupan kita sebagai warga negara (misalnya) Indonesia (kehidupan offline). Continue reading “Balanced Online & Offline Life”

Stand Up Comedy : Sebuah Pisau Bermata Dua.

Tidak terasa, komunitas stand up comedy sudah hampir genap berusia 3 tahun sejak meledak pertama kali pada Juli 2013. Selama hampir 3 tahun, saya mengamati perkembangan stand up comedy di Indonesia. Pesat. Dalam 3 tahun stand up comedy mampu mengangkat banyak nama yang tadinya hanya dikenal oleh sedikit orang menjadi dikenal oleh ribuan orang. Sebut saja beberapa di antaranya, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Sammy Notaslimboy.
 
Sebagai penikmat dan pelaku stand up comedy, saya mengamati apa yang disebut persona dan bit dari banyak komika. Tidak hanya komika yang berasal dari SUCI Kompas TV, tetapi juga dari Metro TV dan mungkin juga dari beberapa show atau open mic.
 
Sebagai penikmat, saya sih suka dengan banyak komika. Saya menikmati hampir semua genre materi yang dibawakan oleh banyak komika. Mulai dari yang serius (berisi pesan dan kritik sosial, politik) sampai yang genre-nya pop (boyband, girlband, galau, jomblo, relationship).
 
Sebagai pelaku, saya mengamati sesama komika. Bukan hanya materi, tapi juga motivasi mereka menjadi seorang komika. Bagi saya, motivasi mereka tercermin dari perilaku yang ditampilkan mereka ketika on stage maupun off stage; dari materi-materi yang mereka bawakan maupun dari perilaku / sikap mereka ketika tidak sedang melakukan stand up routines.
Sejauh yang saya amati, saya melihat seorang komika melakukan seni stand up comedy karena:

  1. Ingin berkarya di dunia stand up comedy,
  2. Ingin menciptakan sebuah perubahan dengan mengkritisi atau menceritakan kegelisahan dirinya terhadap kondisi sosial/politik,
  3. Ingin eksis atau popular.

Sebelum menentang atau menegasi pendapat saya di atas, coba baca lebih lanjut penjelasan saya.

Continue reading “Stand Up Comedy : Sebuah Pisau Bermata Dua.”

Catatan pribadi #PerempuanBerHAK – 8 Maret 2014

10 Juli 2012.

Tanggal yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh banyak pecinta stand up comedy.
Tidak mungkin dilupakan oleh Ernest Prakasa.
Dan tidak akan pernah dilupakan oleh saya dan (saya yakin) juga Sakdiyah Ma’ruf.

Ever since that night, Kak Diyah and I were so excited about our performance.
We killed the opening performance. And we did think we have to do it again.

Di akhir tahun 2012, Kak Diyah dan saya sangat excited dan saling mengirim email.
We were going to have a duet show! 😀
We picked the date : 08.03.2014. International Women’s Day. Continue reading “Catatan pribadi #PerempuanBerHAK – 8 Maret 2014”

Stop saying "Gue galau"

Orang yang berhasil adalah orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara emosi. Kecerdasan emosi sering kita kenal dengan sebutan Emotional Intelligence. Orang yang cerdas secara emosi mampu untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan dan memanfaatkannya untuk membina hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Sudah dibuktikan bahwa membina hubungan yang baik atau membangun sebuah social network berperan penting dalam membangun karier. Itulah mengapa orang yang cerdas secara emosi lebih mungkin memiliki karier yang lebih baik dibandingkan orang yang hanya cerdas secara intelektual.

Mengenali emosi yang dirasakan adalah sebuah kebutuhan yang cukup mendasar. Mengapa? Dengan mengenali emosi, kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan di sikon yang ada. Apabila kita tidak dapat mengenali emosi kita dengan baik atau salah me-label emosi, tentu tindakan yang kita ambil juga tidak tepat. Misalnya, kalau kita tahu kalau kita sedang sedih, kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan agar kita tidak lagi sedih. Kalau kita marah tapi salah melabel perasaan marah tersebut dengan sedih, maka percuma kita menangis… karena mungkin yang kita butuhkan bukan menangis, tapi teriak-teriak misalnya.

Continue reading “Stop saying "Gue galau"”