Kamu sudah bahagia? Yakin?

Saya masih ingat jelas ketika pertama kali saya submit ide saya untuk program #BeraniMengubah kategori Gaya Hidup & Kesehatan. Ide saya adalah edukasi mengenai bahaya depresi kepada masyarakat (mengingat WHO saat itu mengumumkan Depresi sebagai sebuah krisis global). Ide ini adalah salah satu saran yang saya tulis di skripsi saya; yang artinya topik depresi dan kesehatan mental adalah concern utama saya saat itu. Ide saya menang. Tetapi selama penggodokan, ide tersebut disarankan untuk dibungkus dengan sesuatu yang lebih menarik, yaitu mengubah topik ke arah happiness (instead of something dark like depression).

Menarik. Tapi sulit. Sulit karena happiness is a common sense. I never really read a scientific journal regarding happiness before. Kata bahagia lebih sering saya temukan di buku motivasi ketimbang buku-buku ilmiah, saat itu setidaknya. I was thinking like, “If you want to be happy, just do something that makes you happy. As simple as that”. Kalau makan bisa bikin bahagia, ya makan. Kalau nonton stand up comedy bisa bikin seneng ya nonton. Kadang seneng dan kadang sedih itu ya memang hidup. Sesederhana itu. Bahagia itu ya common sense. Bukan sesuatu yang ilmiah dan ada ilmunya, layaknya leadership atau public speaking.

And that is where I was wrong. Salah banget, karena ternyata ada ilmunya. Salah banget, karena kita bisa kok merasa bahagia terus kalau tahu caranya. (more…)

Advertisements

I’m not good enough, yet. So I’ll learn better.

I’m not saying this as a pessimist.
I’m saying this because I think I just find out the right attitude to become better.

I realized one thing recently, that I complained a lot. Though I learn many things, I learn after complaining. Which usually takes energy, emotions, and a lot of time.

But, today after thinking about it for hours, I came to one realization.
“If my senior (the one who has more experiences and is wiser) was not complaining while he and I were in the same damned situation…. Then, I should not be complaining and learn why my senior does not complain”.
Why?
Simple. He is called senior because he has more experiences that made him think that situation is not damned at all. It’s a piece of cake for him. While it is a big piece of cake for me. I need to learn what makes the cake is just another piece for him. That way, I learn and I become better.

And. I’m not good enough, yet. Because I think I just ate quite a big cake.
But I do believe that it will become another piece of a cake later.

 

Sincerely,

Jessica Farolan (ready to eat more big cakes).

Positive Genius & Stand Up Comedy

Biarkan saya memulai tulisan ini dengan mengeluh tentang motivator.

Pernah tidak datang ke seminar motivasi? Pernah liat motivatior yang cara naik ke panggungnya lari-lari dari samping panggung sambil teriak-teriak “SEMANGAT PAGI????!!!! APA KABARNYA PAGI INI SODARA-SODARA SEKALIAN????!!!! LUAR BIASA!!!! SEKALI LAGI!!! APA KABARNYA PAGI INI SODARA-SODARAAAAA????!!!! LUUUUAAAAARRR BIIIIIAAAASAAAAAA” ?

Satu, kenapa harus lari?
Dua, kenapa harus teriak-teriak sih???

Tapi yang paling bikin saya gerah bukan pembukaannya. Saya gerah dengan kalimat-kalimat mutiara positif yang mereka ucapkan. Gerah dengan kalimat mutiara yang senada dengan “badai pasti berlalu”.

Satu, ya badai pasti berlalu. Tapi belum tentu juga lu selamat dari badai.
Dua, basi.
Tiga, klise.

Klise. Sama klisenya dengan nasihat yang sering kita dengar dari ucapan A waktu tahu B diputusin pacarnya: “semuanya pasti baik-baik saja”. Padahal B lagi hamil 3 bulan.

Optimis yang delusional.

Dan berhubung salah satu pekerjaan saya membuat saya terkadang menjadi motivator untuk anak-anak SMP dan SMA, saya akan menggunakan salah satu bahan mereka kalau mau membahas tentang optimis. Mari lihat gambar di bawah ini. (more…)

Balanced Online & Offline Life

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman di Aethra Learning Center sempat menerima sebuah tawaran kerja sama dengan SMP Santa Maria Juanda untuk memberikan pelatihan kepada siswa/i mereka tentang penggunaan internet dan social media. Selama membuat materi pelatihan, saya jadi bernostalgia hal-hal jadul banget.

Dulu itu, saya cuma bisa main internet setiap hari Sabtu. Biasanya sih jam 4 sore sampai jam 7 malam. Kalau orang tua lagi pergi, bisa lah sampai jam 8 malam. Kenapa gitu? Soalnya, dulu itu kalau kita mau pakai internet, telepon kita mati. Jadi kudu milih-milih waktu yang pas, jam-jam di mana orang rumah jarang dapet telepon. Beda banget kan sama sekarang? Kalau dulu mau akses internet, saya harus nyamperin komputer. Kalau sekarang, saya bisa akses internet dimanapun dan kapanpun, via handphone.

Selama saya buat materi pelatihan tadi, saya juga jadi paham kalau sebenernya kita ini bukan hanya punya kewarganegaraan seseuai tanah kelahiran. Kita juga menjadi seorang warga negara digital. Banyak sekali pelatihan di luar negri tentang hal ini supaya masyarakat sadar bahwa kita hidup di sebuah era digital dan kita semua warga negara digital. Jadi, ada kehidupan kita sebagai warga negara digital (kehidupan online) dan kehidupan kita sebagai warga negara (misalnya) Indonesia (kehidupan offline). (more…)

Stop saying "Gue galau"

Orang yang berhasil adalah orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara emosi. Kecerdasan emosi sering kita kenal dengan sebutan Emotional Intelligence. Orang yang cerdas secara emosi mampu untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan dan memanfaatkannya untuk membina hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Sudah dibuktikan bahwa membina hubungan yang baik atau membangun sebuah social network berperan penting dalam membangun karier. Itulah mengapa orang yang cerdas secara emosi lebih mungkin memiliki karier yang lebih baik dibandingkan orang yang hanya cerdas secara intelektual.

Mengenali emosi yang dirasakan adalah sebuah kebutuhan yang cukup mendasar. Mengapa? Dengan mengenali emosi, kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan di sikon yang ada. Apabila kita tidak dapat mengenali emosi kita dengan baik atau salah me-label emosi, tentu tindakan yang kita ambil juga tidak tepat. Misalnya, kalau kita tahu kalau kita sedang sedih, kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan agar kita tidak lagi sedih. Kalau kita marah tapi salah melabel perasaan marah tersebut dengan sedih, maka percuma kita menangis… karena mungkin yang kita butuhkan bukan menangis, tapi teriak-teriak misalnya.

(more…)

Psikologi & Stand Up Comedy

Dulu di awal saya dan teman-teman mendirikan @StandUpAtma, saya sempat insist sekali membuat stand up khusus psikologi. Saya insist dengan alasan bahwa saya ingin memberi banyak kesempatan kepada anak psikologi untuk mengasah keterampilan berpikir kritis, yang seharusnya dan wajib dimiliki anak psikologi. It’s a need. Dan berhubung para calon pendiri waktu itu adalah anak psikologi… saya berpikir mengapa tidak memberikan kesempatan eksklusif kepada anak psikologi. Tapi, kemudian teman-teman setuju dengan membuka kesempatan kepada satu kampus, tidak hanya psikologi. Saya bukan tidak setuju. Jadi, saya tidak berkeberatan sama sekali membuka kesempatan kepada Atma Jaya, satu kampus. Baru saat ini saya berpikir bahwa ada kaitan yang erat antara psikologi dan stand up comedy. (more…)

5 Languages of Apology

Kemarin, di Aethra’s Books Day, rekan saya (Anita Rijadi) membahas sebuah buku yang berjudul 5 Languages Of Apology. Begitu mendengar judulnya, saya langsung tertarik. Sebelumnya, saya pernah membaca tentang 5 Languages Of Love dan mendapati bahwa buku ini menarik. Jadi, saya dengan cepat menyimpulkan bahwa buku yang akan dibahas rekan saya tersebut juga pasti tidak kalah menariknya dari apa yang pernah saya baca.

Di buku, 5 Languages Of Love, saya menemukan bahwa kita memiliki bahasa kasih yang dominan dalam diri kita. Bahasa ini yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan pasangan kita dan apa yang kita harapkan dari pasangan kita. Misalnya, saya adalah seorang wanita dengan bahasa kasih “quality time”. Maka saya akan lebih senang ketika pasangan saya menghabiskan banyak waktu bersama dan melakukan sesutu hal bersama, daripada pasangan saya memberikan hadiah atau memuji saya atau memeluk saya. Ketika pasangan saya tidak mengerti bahwa bahasa kasih saya adalah demikian dan jauh lebih sering memberi hadiah ketimbang meluangkan waktu bersama saya, maka mungkin saya akan merasa kurang diperhatikan atau kurang mendapatkan afeksi.

Demikian juga dengan 5 language of apology. Terdapat 5 bahasa permintaan maaf, yaitu pernyataan menyesal, tanggung jawab, tebusan, bertobat, dan permohonan ampun. (more…)