What about virginity?

Sesuai janji, walau ngaret, gue akan berbicara tentang virginitas. Agak berat, tapi gue berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa yang ringan. Dan tulisan ini tentunya tidak sempurna (karena sempurna hanya milik Gusti Allah dan Andra & The Backbone kalau kata Soleh solihun), tapi semoga tulisan ini tetap bisa memberikan insight bagi siapapun yang membaca. =)

“Kenapa sih lu harus takut untuk putus sama pacar lu karena masalah virginitas?”

Pertanyaan ini beberapa kali gue tanyakan, tapi hanya di dalam hati. Kenapa hanya dalam hati? Karena kadang ketika orang bercerita tentang hal tersebut ke gue, mereka bercerita sambil menangis dalam penyesalan dan biasanya mereka sedang dalam masa katarsis. Jadi biasanya belum waktunya gue tanyakan hal itu.

Ya, biasanya.

Gue sudah beberapa kali mengkonselingi dewasa muda yang tengah bimbang dengan hubungannya dengan pacar; mau putus tapi udah gak virgin lagi… tapi kalau tetap dipertahankan, kok rasanya pacarannya udah gak sehat lagi (baca: berantem mulu, udah gak ada feeling lagi, cowoknya udah flirt sama cewek lain, dsb). Beberapa kali juga gue (dan gue juga tahu temen gue yang lain yang) dimintai pendapat terkait hal ini oleh orang lain yang mengkonselingi temannya yang memiliki masalah serupa.
Pertanyaan tadi kerap muncul.
Ya, gue tahu. Situasi yang gue gambarkan tadi rasanya berat dan kita hidup di budaya yang cukup men-judge virgintas sebagai sebuah hal yang saklek, sebagai sesuatu yang menandakan karakter seseorang. Kalau seorang perempuan kehilangan virginitas sebelum menikah, mungkin ia akan dicap sebagai perempuan tidak baik. Dan sayangnya, judgment itu beratnya lebih terasa di perempuan terkadang.
Sebelum lanjut, ada baiknya kita mengenal virginitas itu apa.

Continue reading “What about virginity?”

About Grief

Tahun 2012, katanya bakal kiamat? I personally believe that it is true but not literally. Artinya, gue percaya bahwa satu fase dalam kehidupan akan berakhir dan berganti dengan yang baru hingga akhirnya semua hal di dunia adalah sesuatu yang baru. Bisa jadi artinya survival of the fittest (yang bertahan hidup akan tetap hidup dan yang lainnya pergi meninggalkan dunia), bisa jadi artinya you meet your lowest point in your life, hancur, dan pada akhirnya memulai segalanya dengan hidup baru. Dua poin ini gue dapatkan dari sebuah sumber bacaan yang gue lupa (karena lebih dari satu sumber) tapi mereka mencoba menjelaskan tentang ramalan suku maya lewat tulisan-tulisan mereka. Untuk poin pertama… Dua bulan di tahun 2012 cukup membuktikan sejauh ini. I received a lot of death news. Yes, a lot (total 12 berita dalam 2 bulan adalah angka yang cukup signifikan untuk gue). Berita kematian yang datang dari orang yang secara langsung memiliki ikatan pertemanan dengan gue, hingga yang secara tidak langsung tetapi terkait dengan orang yang gue kenal cukup baik. Sedangkan untuk poin kedua sendiri, I’ve experienced it myself.

Kedua poin yang gue sebutkan di atas (menurut gue) tidak bisa lepas dari apa yang disebut sebagai proses grieving (berduka). Kubler Ross mengatakan bahwa grieving memiliki 5 tahap; denial, anger, bargaining, depression, acceptance. Jadi, seseorang yang grieving pada awalnya akan mengalami tahapan denial, menyangkal bahwa ia tidak kehilangan, biasanya mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Then it will hit him and he will realize that he was left. Dia akan merasa marah dan menyalahkan banyak hal; diri sendiri, atau lingkungannya, atau bahkan Tuhan. Kemudian ia akan sampai pada satu masa di mana akan banyak keluar kalimat dengan awalan “what if…” atau “if only…”. Hingga akhirnya ia mengalami depresi atas kehilangan tersebut dan perlahan menerima kondisinya (acceptance). Kelima tahap ini adalah framework yang akan membantu kita untuk belajar hidup tanpa seseuatu atau seseorang yang meninggalkan kita. The good news is… kita bisa memantau kondisi kita pasca kehilangan dengan framework ini. The bad thing is… proses ini bersifat felksibel. Artinya, seseorang sangat mungkin mengalami lompatan fase atau bahkan mengulang fase. Berdasarkan pengalaman pribadi, gue pernah merasakan mengulang 4 fase pertama beberapa kali selama kurang lebih 6-7 bulan, sebelum akhirnya lanjut ke proses penerimaan.
To me, grieving, in other words, is the art of letting go and moving on. Dalam grieving kita memilih… untuk berjalan maju dengan melawan rasa sakit… atau menekan pengalaman menyakitkan ke dalam area unconsciousness kita. Tapi pada akhirnya, gue rasa kita akan tetap berjalan maju. Proses penerimaan itu sendiri menurut gue harus dibagi lagi menjadi beberapa tahap; menerima dengan rasa tidak rela, menerima bahwa yang sudah pergi biarlah pergi demi sesuatu yang baik (merelakan), menerima dan memaafkan dengan tuntas (forgiving), menerima dan bisa menjalani hidup tanpa sesuatu/seseorang yang meninggalkan kita (final acceptance). Dan dari semua tahapan itu, rasanya tidak ada satupun kata melupakan (forgetting). Lupa hanya akan terjadi ketika sesuatu secara alamiah menjadi tidak lagi penting (bukan melabel tidak penting dengan sengaja ketika sesuatu itu masih memiliki efek yang cukup besar) atau adanya hal lain yang lebih ‘besar’ yang pada akhirnya meniban informasi lainnya. Jadi, kalimat “yaudah, lupain aja…” bukan kalimat yang efektif ya untuk menghibur seseorang yang mengalami kehilangan (entah kematian, entah putus, entah bercerai). Cara paling baik rasanya adalah dengan menjalani proses yang ada apa adanya, katarsis selama dibutuhkan, dan jangan diburu-buru. Dan hal yang menurut gue paling baik yang bisa dilakukan oleh lingkungan orang yang sedang grieving adalah menemani, mendengarkan, dan keep being healthy (if you can’t listen or handle at the moment, tell him the truth and tell him you will listen later when you’re ready again).
I hope this writing will be useful for all of you, especially this year. Dan kalau ada pendapat lain atau ralat terhadap pandangan gue, monggo disampaikan. Thank you and God bless us. =)

Continue reading “About Grief”

Tentang Karma

Apa yang terlintas pertama kali ketika kita mendengar atau membaca kata karma? Saya tidak yakin bagaimana dengan orang lain, tetapi saya sendiri langsung teringat dengan pepatah “apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu petik”. Dan katanya sih, petiknya bisa jadi tidak dalam waktu dekat, tetapi bisa jadi dalam jangka waktu yang lama. Saya cukup sering mendengar orang-orang berkata kepada ayah atau ibu yang selingkuh agar tidak melakukan tindakan tersebut agar anaknya tidak diselingkuhi atau mendapat karma dari ayah atau ibunya. Lah? kok bisa?

Saya tengah berpikir jahil tentang karma sebenarnya dengan berkaca pada kehidupan di sekitar saya. Kemudian, setelah bepikir dan menyambungkan beberapa teori yang pernah saya baca atau dengar, pikiran jahil itu berubah menjadi pikiran yang lebih serius. Jadi, saya ingin membahas karma ini dengan definisi dan sedikit penjelasan yang bisa lebih dipahami mungkin.
Karma sendiri didefinisikan sebagai penyebab dari seluruh lingkaran sebab akibat yang ada (Wikipedia). Istilah ini seringkali muncul di agama Buddha dan Hindu. Pemahaman awal tentang “apa yang kamu tanam adalah apa yang kamu petik” tidak salah, karena apa yang kamu tanam adalah sebab dari apa yang kamu petik sebagai akibat. Saya kemudian melihat contoh dari lingkungan sekitar saya, ketika seorang ayah selingkuh maka anak perempuannya dipercaya akan diselingkuhi. Biasanya, orang-orang yang ada di dekat saya akan langsung mengatakan bahwa itu karma tanpa bisa menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi. Baiklah, saya akan mencoba melihat mengapa hal tersebut mungkin terjadi. Salah satu teori psikologi yang bisa menjelaskan hal ini mungkin adalah teori milik Carl Gustav Jung di mana teori beliau berkenaan dengan ajaran Hindu. Berdasarkan sumber yang ada, “pemikiran sadar, kata-kata atau tindakan, yang berasal dari unresolved emotion akan berujung pada karma”. Pada contoh yang ada, ketika si ayah selingkuh, si ibu mungkin mengalami emosi-emosi negatif. Apabila emosi negatif tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tidak diperlihatkan pada si anak, serta si anak tidak mengetahui masalah tersebut, kemungkinan anak tersebut mengalami hal yang sama dengan ibunya akan kecil. Namun, jika sebaliknya terjadi, perilaku si ibu akan berdampak pada anaknya yang memungkinkan anak tersebut memiliki ketakutan atau emosi atau pemikiran lainnya yang membuat ia belajar bahwa hal yang sama dapat terjadi pada dirinya. Dengan demikian, ketika si anak dihadapkan pada kondisi yang kurang lebih mirip, cognitively unresolved emotion tersebut akan muncul. Dari sini, karma terjadi karena proses belajar anak itu sendiri. Hal ini juga sesuai dengan teori yang pernah saya dengar di mata kuliah Pengantar Terapi Keluarga; bahwa seorang anak akan mengingat apa yang terjadi pada orang tuanya dari usia 1-10 tahun dan ketika ia dewasa ia akan menampilkan perilaku serupa dengan apa yang ia pelajari selama 10 tahun tersebut. Namun, apakah akan dipersepsikan sebagai karma yang tidak dapat dihindari dan akan terjadi pada generasi berikutnya SANGAT bergantung pada anak itu sendiri.
Pesan moralnya:
Kita bisa memutus lingkaran karma karena kita sebagai manusia memiliki kontrol terhadap lingkungan sebagaimana lingkungan memiliki kontrol terhadap perilaku kita. Masalahnya terdapat pada bagaimana individu mempersepsikan kejadian yang ada sebagai nasib yang akan terus berlanjut atau mempersepsikan bahwa hal itu mungkin terjadi kembali dengan banyak elemen yang berbeda sehingga lingkaran karma tersebut bisa diputus. Hal ini sesuai dengan konsep Triadic Reciprocal Causation milik Albert Bandura. Singkatnya, kita memiliki opsi. Hanya saja, seberapa yakin kita akan diri kita bahwa diri kita cukup kuat (self concept) dan seberapa yakin kita bisa memutus lingkaran karma tersebut (self efficacy).
Well… cuma pikiran jahil yang menjadi sedikit lebih serius. Mungkin setelah ini, saya akan memutus lingkaran karma saya sendiri. Simple, saya tidak ingin secepat itu menyerah pada nasib karena saya sadar bahwa saya punya kontrol atas apa yang terjadi pada diri saya dan saya tahu bahwa saya kuat. Wish me the best of luck! ;D
-eljez

Untuk mereka yang ingin mengakhiri hidup =)

Tidak jarang saya menemui pribadi-pribadi yang ingin mengakhiri hidup. Entah karena lelah, entah karena merasa helpless dan atau hopeless, dan lain sebagainya. Mari sejenak berpikir bersama. Dengan mengakhiri hidup, berarti mengakhiri penderitaan yang diasumsikan setelahnya akan menjadi lebih baik. Bahasa religiusnya, akan berpulang ke rumah Tuhan. Yakin tahu jalannya? Yakin tidak akan tersasar, baik tersasar ke neraka ataupun di dunia? Mengapa tidak menunggu dijemput saja? Sambil menunggu dijemput, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan banyak kegiatan yang baik untuk diri sendiri. Lebih baik lagi kalau berguna untuk orang lain juga. Kalau dijemput, kan tidak akan tersasar. Ya kan? =)

-eljez