Stand Up Comedy : Sebuah Pisau Bermata Dua.

Tidak terasa, komunitas stand up comedy sudah hampir genap berusia 3 tahun sejak meledak pertama kali pada Juli 2013. Selama hampir 3 tahun, saya mengamati perkembangan stand up comedy di Indonesia. Pesat. Dalam 3 tahun stand up comedy mampu mengangkat banyak nama yang tadinya hanya dikenal oleh sedikit orang menjadi dikenal oleh ribuan orang. Sebut saja beberapa di antaranya, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Sammy Notaslimboy.
 
Sebagai penikmat dan pelaku stand up comedy, saya mengamati apa yang disebut persona dan bit dari banyak komika. Tidak hanya komika yang berasal dari SUCI Kompas TV, tetapi juga dari Metro TV dan mungkin juga dari beberapa show atau open mic.
 
Sebagai penikmat, saya sih suka dengan banyak komika. Saya menikmati hampir semua genre materi yang dibawakan oleh banyak komika. Mulai dari yang serius (berisi pesan dan kritik sosial, politik) sampai yang genre-nya pop (boyband, girlband, galau, jomblo, relationship).
 
Sebagai pelaku, saya mengamati sesama komika. Bukan hanya materi, tapi juga motivasi mereka menjadi seorang komika. Bagi saya, motivasi mereka tercermin dari perilaku yang ditampilkan mereka ketika on stage maupun off stage; dari materi-materi yang mereka bawakan maupun dari perilaku / sikap mereka ketika tidak sedang melakukan stand up routines.
Sejauh yang saya amati, saya melihat seorang komika melakukan seni stand up comedy karena:

  1. Ingin berkarya di dunia stand up comedy,
  2. Ingin menciptakan sebuah perubahan dengan mengkritisi atau menceritakan kegelisahan dirinya terhadap kondisi sosial/politik,
  3. Ingin eksis atau popular.

Sebelum menentang atau menegasi pendapat saya di atas, coba baca lebih lanjut penjelasan saya.

Continue reading “Stand Up Comedy : Sebuah Pisau Bermata Dua.”

Let’s Make More Laughters! =D

Baiklah… mari menepati janji gue untuk bercerita di posting-an blog beberapa waktu lalu! =)

Mari kita mulai dari beberapa waktu lalu ketika gue dieliminasi dari Stand Up Comedy Indonesia Season 2.
 
It was a great experience to be on stage. Sungguh. Gue sangat menyukai berada di panggung Stand Up Comedy Kompas TV. Mengenal 12 orang sakit jiwa lainnya yang sangat menginspirasi. It was a great pleasure. Ketika gue diumumkan bahwa gue dieliminasi di minggu pertama show, it was not that hard. Yang terasa menyedihkan hanyalah gue kehilangan waktu bersama 12 orang teman baru gue itu. But then it got harder the next days. Terutama ketika show itu ditayangkan perdana. Beberapa kalimat membuat gue merasa kecewa terhadap diri sendiri. Kalau hanya kalimat “eljez tidak lucu”, gue masih bisa handle. Tapi ada kalimat yang sampai saat ini pun masih terngiang di otak gue: “Kesalahan Indra Yr memilih eljez”. That sentence got me thinking that maybe I was a failure, that maybe I wasn’t supposed to be on that stage. Selama satu minggu penuh gue tidak ingin mengingat bagaimana gue di panggung itu, gue tidak ingin open mic. Tapi, gue terselamatkan oleh 3 hal: telepon, twitter, dan pikiran gue sendiri. Gue telepon dengan William SB (bos gue) dan Pandji di minggu itu… mereka membuat gue berpikir untuk tidak menyerah. Twitter membantu gue ketika gue sudah berpikir untuk tidak menyerah; tawaran untuk open mic di UNJ datang.
Open mic di UNJ buat gue saat itu menakutkan. You can ask people who saw me that day that I was trembling.. gue gemetar dan satu-satunya alasan yang bisa gue pikirkan adalah gue gugup. Open mic hari itu tidak buruk, pecah, tapi tidak bisa juga dibilang sangat baik.
 
Sejak open mic UNJ, I admit that I was escaping. Gue tidak ingin terlalu dekat dengan stand up comedy dulu beberapa saat dan gue juga punya alasan bagus untuk mengalihkan fokus. Gue fokus ke Smile For The Future, ke beberapa training yang terus menghujani Aethra Learning Centre. Gue tenggelam dalam kesibukan training. Gue bukan tidak rindu stand up comedy. I missed doing open mics… dearly. Tapi gue terlanjur tenggelam dalam jadwal training dan training adalah hal yang juga menyenangkan buat gue.
Sampai akhirnya suatu malam Ernest mengirimkan DM Twitter ke gue bertanya apakah gue free tanggal 10 Juli 2012. Eits… engga kok, dia cuma bilang bahwa dia udah netepin tanggal untuk Merem Melek Finale dan memang nyokap gue pengen banget dateng ke show-nya Ernest. Beberapa hari kemudian, Ernest message gue via Whatsapp dan menanyakan apakah gue bisa jadi openner dia di Jakarta bareng Kak Diyah (Sakdiyah Ma’ruf). Tanpa pikir panjang, gue mengiyakan. Dan beberapa menit kemudian, gelisah melanda hahahaha. Gue udah lama gak open mic cuuuyyyy!!! Ini sih nekad to the max! Tapi gue inget kata Pandji waktu di telepon itu bahwa gue harus kembali open mic, latihan lagi, buktikan bahwa mereka salah tentang gue. So there are 3 main reasons why I should be doing this:

Continue reading “Let’s Make More Laughters! =D”