Stop saying "Gue galau"

Orang yang berhasil adalah orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara emosi. Kecerdasan emosi sering kita kenal dengan sebutan Emotional Intelligence. Orang yang cerdas secara emosi mampu untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan dan memanfaatkannya untuk membina hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Sudah dibuktikan bahwa membina hubungan yang baik atau membangun sebuah social network berperan penting dalam membangun karier. Itulah mengapa orang yang cerdas secara emosi lebih mungkin memiliki karier yang lebih baik dibandingkan orang yang hanya cerdas secara intelektual.

Mengenali emosi yang dirasakan adalah sebuah kebutuhan yang cukup mendasar. Mengapa? Dengan mengenali emosi, kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan di sikon yang ada. Apabila kita tidak dapat mengenali emosi kita dengan baik atau salah me-label emosi, tentu tindakan yang kita ambil juga tidak tepat. Misalnya, kalau kita tahu kalau kita sedang sedih, kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan agar kita tidak lagi sedih. Kalau kita marah tapi salah melabel perasaan marah tersebut dengan sedih, maka percuma kita menangis… karena mungkin yang kita butuhkan bukan menangis, tapi teriak-teriak misalnya.

Continue reading “Stop saying "Gue galau"”

What about virginity?

Sesuai janji, walau ngaret, gue akan berbicara tentang virginitas. Agak berat, tapi gue berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa yang ringan. Dan tulisan ini tentunya tidak sempurna (karena sempurna hanya milik Gusti Allah dan Andra & The Backbone kalau kata Soleh solihun), tapi semoga tulisan ini tetap bisa memberikan insight bagi siapapun yang membaca. =)

“Kenapa sih lu harus takut untuk putus sama pacar lu karena masalah virginitas?”

Pertanyaan ini beberapa kali gue tanyakan, tapi hanya di dalam hati. Kenapa hanya dalam hati? Karena kadang ketika orang bercerita tentang hal tersebut ke gue, mereka bercerita sambil menangis dalam penyesalan dan biasanya mereka sedang dalam masa katarsis. Jadi biasanya belum waktunya gue tanyakan hal itu.

Ya, biasanya.

Gue sudah beberapa kali mengkonselingi dewasa muda yang tengah bimbang dengan hubungannya dengan pacar; mau putus tapi udah gak virgin lagi… tapi kalau tetap dipertahankan, kok rasanya pacarannya udah gak sehat lagi (baca: berantem mulu, udah gak ada feeling lagi, cowoknya udah flirt sama cewek lain, dsb). Beberapa kali juga gue (dan gue juga tahu temen gue yang lain yang) dimintai pendapat terkait hal ini oleh orang lain yang mengkonselingi temannya yang memiliki masalah serupa.
Pertanyaan tadi kerap muncul.
Ya, gue tahu. Situasi yang gue gambarkan tadi rasanya berat dan kita hidup di budaya yang cukup men-judge virgintas sebagai sebuah hal yang saklek, sebagai sesuatu yang menandakan karakter seseorang. Kalau seorang perempuan kehilangan virginitas sebelum menikah, mungkin ia akan dicap sebagai perempuan tidak baik. Dan sayangnya, judgment itu beratnya lebih terasa di perempuan terkadang.
Sebelum lanjut, ada baiknya kita mengenal virginitas itu apa.

Continue reading “What about virginity?”