Stop saying "Gue galau"

Orang yang berhasil adalah orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara emosi. Kecerdasan emosi sering kita kenal dengan sebutan Emotional Intelligence. Orang yang cerdas secara emosi mampu untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan dan memanfaatkannya untuk membina hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Sudah dibuktikan bahwa membina hubungan yang baik atau membangun sebuah social network berperan penting dalam membangun karier. Itulah mengapa orang yang cerdas secara emosi lebih mungkin memiliki karier yang lebih baik dibandingkan orang yang hanya cerdas secara intelektual.

Mengenali emosi yang dirasakan adalah sebuah kebutuhan yang cukup mendasar. Mengapa? Dengan mengenali emosi, kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan di sikon yang ada. Apabila kita tidak dapat mengenali emosi kita dengan baik atau salah me-label emosi, tentu tindakan yang kita ambil juga tidak tepat. Misalnya, kalau kita tahu kalau kita sedang sedih, kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan agar kita tidak lagi sedih. Kalau kita marah tapi salah melabel perasaan marah tersebut dengan sedih, maka percuma kita menangis… karena mungkin yang kita butuhkan bukan menangis, tapi teriak-teriak misalnya.

Continue reading “Stop saying "Gue galau"”

Advertisements

Psikologi & Stand Up Comedy

Dulu di awal saya dan teman-teman mendirikan @StandUpAtma, saya sempat insist sekali membuat stand up khusus psikologi. Saya insist dengan alasan bahwa saya ingin memberi banyak kesempatan kepada anak psikologi untuk mengasah keterampilan berpikir kritis, yang seharusnya dan wajib dimiliki anak psikologi. It’s a need. Dan berhubung para calon pendiri waktu itu adalah anak psikologi… saya berpikir mengapa tidak memberikan kesempatan eksklusif kepada anak psikologi. Tapi, kemudian teman-teman setuju dengan membuka kesempatan kepada satu kampus, tidak hanya psikologi. Saya bukan tidak setuju. Jadi, saya tidak berkeberatan sama sekali membuka kesempatan kepada Atma Jaya, satu kampus. Baru saat ini saya berpikir bahwa ada kaitan yang erat antara psikologi dan stand up comedy. Continue reading “Psikologi & Stand Up Comedy”

5 Languages of Apology

Kemarin, di Aethra’s Books Day, rekan saya (Anita Rijadi) membahas sebuah buku yang berjudul 5 Languages Of Apology. Begitu mendengar judulnya, saya langsung tertarik. Sebelumnya, saya pernah membaca tentang 5 Languages Of Love dan mendapati bahwa buku ini menarik. Jadi, saya dengan cepat menyimpulkan bahwa buku yang akan dibahas rekan saya tersebut juga pasti tidak kalah menariknya dari apa yang pernah saya baca.

Di buku, 5 Languages Of Love, saya menemukan bahwa kita memiliki bahasa kasih yang dominan dalam diri kita. Bahasa ini yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan pasangan kita dan apa yang kita harapkan dari pasangan kita. Misalnya, saya adalah seorang wanita dengan bahasa kasih “quality time”. Maka saya akan lebih senang ketika pasangan saya menghabiskan banyak waktu bersama dan melakukan sesutu hal bersama, daripada pasangan saya memberikan hadiah atau memuji saya atau memeluk saya. Ketika pasangan saya tidak mengerti bahwa bahasa kasih saya adalah demikian dan jauh lebih sering memberi hadiah ketimbang meluangkan waktu bersama saya, maka mungkin saya akan merasa kurang diperhatikan atau kurang mendapatkan afeksi.

Demikian juga dengan 5 language of apology. Terdapat 5 bahasa permintaan maaf, yaitu pernyataan menyesal, tanggung jawab, tebusan, bertobat, dan permohonan ampun. Continue reading “5 Languages of Apology”